Sulit Dapatkan Subsidi Pemerintah, Petani Berkeluh Kepada Soerya Respationo

Petani yang menyampaikan keluhan secara langsung kepada Soerya Respationo
Share berita ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Selain didominasi wilayah perairan, Kabupaten Lingga diketahui memiliki area yang digunakan untuk pertanian.

Lingga menghasilkan beragam jenis pertanian. Baik yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat maupun binaan dari Pemerintah Daerah.

Namun demikian, kalangan warga menilai, dalam kondisi ini masih banyak para petani di Lingga belum mendapat kemudahan dan keringanan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya ini seorang petani pak. Sebagaimana yang diketahui, Pemerintah Pusat sudah gelontorkan dana untuk membantu para petani. Kami para petani di Dabo ini belum pernah menikmati,” terang seorang warga saat berdialog langsung dengan Cagub Kepri Muhammad Soerya Respationo di aula One Hotel, Dabo, Kabupaten Lingga, Kamis (5/11/20) malam.

Seumpama saja, tambah warga itu lagi, harga pupuk urea di tempat lain kisaran Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu untuk 50 Kg. Akan tetapi harga di Lingga bisa sampai Rp 8 ribu perkilo. Kalau 50 kg sudah Rp400 ribu, terjadi kenaikkan dua kali.

“Jadi, kami para petani di Dabo ini sangat mengharapkan dapat menikmati subsidi yang digelontorkan oleh pemerintah,” keluhnya.

Yang paling dirasakan, tegasnya lagi, jika ada penyerahan bantuan untuk petani, biasanya langsung terbentuk kelompok tani. Tetapi petani yang sebenarnya tidak pernah mendapatkan bantuan.

“Untuk itu, kami menaruh harapan besar kepada pak Soerya Respationo jika nanti terpilih nanti dapat menjawab masalah ini,” tambahnya.

Ia dan warga lainya sangat berharap, para petani di Lingga bisa mendapatkan dan menikmati apa yang dikucurkan oleh Pemerintah. Termasuk juga dengan permasalahan pupuk.

Prihal tersebut, Soerya Respationo mengucapkan terima kasih atas penyampaian keluhan dari petani tersebut kepadanya.

Menurutnya, kesenjangan harga pupuk tersebut bisa dibilang seperti kondisi BBM di Papua. Dimana harganya lebih mahal dibandingkan daerah lain.

Oleh karena itu, perlu adanya campur tangan dari pemerintah dalam menangani masalah ini.

Begitu juga dengan munculnya kelompok tani maupun gabungan kelompok tani yang dilakukan oleh oknum, Soerya sebut itu sangat menyengsarakan warga.

“Untuk itu, jika nanti saya diberikan amanah. Akan saya benahi semuanya hingga ke akar-akarnya,” jelasnya.

Sumber: istimewa
Editor: redaksi


Share berita ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *