Site icon poroskepri

Pimpin ATL Kepri 2026–2030, Abdul Kadir Ibrahim Ajak Pengurus Turun ke Komunitas

Sebanyak 53 pengurus ATL Kepri, termasuk koordinator wilayah dari tujuh kabupaten/kota, dikukuhkan Ketua Umum ATL Pusat Pudentia MPSS di Hotel Nite & Day Laguna, Tanjungpinang, Rabu (28/10/2026).F-Istimewa

TANJUNGPINANG – Abdul Kadir Ibrahim (AKIB) resmi memimpin Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Kepulauan Riau masa khidmat 2026–2030. Ia mengajak seluruh jajaran pengurus aktif menggali, mengidentifikasi dan mendokumentasikan kekayaan tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat Kepri.

Sebanyak 53 pengurus ATL Kepri, termasuk koordinator wilayah dari tujuh kabupaten/kota, dikukuhkan Ketua Umum ATL Pusat Pudentia MPSS di Hotel Nite & Day Laguna, Tanjungpinang, Rabu (28/10/2026).

Usai pengukuhan, AKIB mengatakan keberadaan pengurus dan koordinator wilayah menjadi bagian penting dalam upaya menjangkau komunitas pemilik tradisi hingga ke daerah.

Menurutnya, pelestarian tradisi lisan tidak dapat hanya mengandalkan kepengurusan di tingkat provinsi. Keterlibatan pengurus di kabupaten dan kota diperlukan karena berbagai bentuk tradisi tersebut tumbuh dan diwariskan langsung di tengah masyarakat.

Karena itu, para koordinator wilayah diharapkan turun dan berinteraksi dengan masyarakat untuk mengenali tradisi yang masih bertahan maupun yang mulai kehilangan penutur dan pelakunya.

Pendataan dan dokumentasi juga dinilai penting agar tradisi yang masih ada tidak hilang tanpa meninggalkan catatan bagi generasi berikutnya.

AKIB menekankan kerja bersama seluruh pengurus menjadi salah satu kunci untuk menjaga kekayaan tradisi lisan Kepulauan Riau.

Kepengurusan ATL Kepri periode 2026–2030 selanjutnya diharapkan menyusun langkah konkret untuk menginventarisasi, mendokumentasikan, mengkaji serta memperkenalkan kembali tradisi lisan kepada masyarakat.

Ketua Umum ATL Pusat Pudentia MPSS mengingatkan kepengurusan baru agar tidak berhenti pada pembentukan struktur organisasi. Program kerja yang terencana dan memberikan manfaat kepada masyarakat harus menjadi perhatian.

“Jika program bagus, hal lainnya akan mengikuti. Walaupun kita punya finansial, tetapi program tidak terencana dengan baik, maka juga akan sia-sia,” kata Pudentia.

Menurutnya, kualitas perencanaan menjadi bagian penting agar program pelestarian tradisi lisan dapat dilaksanakan secara terarah.

Dukungan terhadap upaya tersebut juga disampaikan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Riau Jumhari.

Ia menyatakan lembaganya terbuka untuk menjalin kerja sama dengan ATL dalam berbagai kegiatan pelestarian, mulai inventarisasi, dokumentasi dan penelitian hingga upaya penyelamatan tradisi lisan yang terancam punah.

Kolaborasi tersebut membuka peluang bagi ATL Kepri untuk mempertemukan kerja organisasi dengan program pelestarian kebudayaan yang melibatkan komunitas pemilik tradisi.

Kepulauan Riau memiliki tradisi lisan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat di berbagai pulau. Tradisi tersebut tidak hanya berbentuk cerita atau tuturan, tetapi dapat menjadi medium pewarisan pengetahuan, nilai kehidupan, sejarah lokal dan identitas komunitas.

Karena itu, pengurus ATL Kepri di tujuh kabupaten/kota diharapkan dapat memetakan tradisi yang masih hidup, kondisi para pelaku atau penuturnya serta kebutuhan pelestarian di masing-masing wilayah.

Hasil pemetaan selanjutnya dapat menjadi dasar untuk menentukan tradisi yang perlu segera didokumentasikan, diteliti maupun diperkuat proses pewarisannya kepada generasi muda.

Dengan kepengurusan periode 2026–2030, ATL Kepri menempatkan kerja lapangan dan kolaborasi dengan komunitas serta lembaga kebudayaan sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi lisan di Kepulauan Riau.***

Penulis : Dismonrahman
Edito : Edy Manto

Exit mobile version