BINTAN – Kasus dugaan sabotase terhadap kelong apung milik nelayan di Desa Berakit, Kabupaten Bintan, hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti meski telah dilaporkan ke pihak kepolisian sejak sepekan lalu.
Korban bernama Akbar meminta Polres Bintan segera mengambil langkah tegas untuk mengusut pelaku yang diduga sengaja memutus tali jangkar kelong miliknya hingga hanyut ke wilayah perbatasan Malaysia.
Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu (20/5/2026) sekitar pukul 16.00 WIB saat Akbar bersama sejumlah rekannya hendak menuju lokasi kelong untuk beraktivitas. Namun setibanya di lokasi, kelong apung tersebut sudah tidak berada di titik tambatan semula.
Akbar kemudian mencari informasi kepada sejumlah nelayan di sekitar lokasi. Dari hasil penelusuran, muncul dugaan kuat bahwa tali jangkar kelong sengaja diputus oleh orang tak dikenal.
Pencarian sempat dilakukan hingga malam hari, namun kelong belum berhasil ditemukan. Keesokan harinya, Kamis (21/5/2026), Akbar kembali menerima informasi dari nelayan lain yang mengaku melihat seseorang diduga memutus tali jangkar kelong milik nelayan lainnya.
Tak lama setelah itu, ia memperoleh kabar bahwa kelong miliknya hanyut hingga mendekati wilayah perbatasan Malaysia. Dugaan sementara mengarah kepada sejumlah nelayan asal Desa Mantang yang diduga terlibat dalam aksi tersebut.
Pada Jumat (22/5/2026), Akbar bersama rekannya melakukan pencarian ke wilayah perairan perbatasan. Kelong akhirnya berhasil ditemukan dan ditarik kembali ke wilayah Indonesia sebelum dibawa menuju pesisir Desa Berakit pada Sabtu (23/5/2026) pagi.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan, sejumlah perlengkapan di atas kelong diketahui hilang, di antaranya dua fiber, dua gulung tali jangkar dan satu jangkar. Selain itu, ditemukan pula bekas potongan tali jangkar serta sisa jaring asing yang tersangkut di bagian bawah kelong.
Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa kelong sengaja dirusak dan dihanyutkan oleh pihak tertentu.
Akbar mengaku mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai Rp100 juta, termasuk kehilangan perlengkapan dan biaya pencarian hingga koordinasi dengan aparat keamanan di wilayah perbatasan Malaysia.
“Hilangnya perlengkapan sekitar Rp15 juta. Ditambah biaya pencarian dan pengurusan di wilayah perbatasan, total kerugian diperkirakan mencapai Rp100 juta,” ujarnya.
Didampingi Ketua Nelayan Berakit, Dinar, korban telah membuat laporan resmi ke Polres Bintan dan menjalani pemeriksaan. Namun hingga hampir satu pekan berlalu, ia mengaku belum melihat adanya langkah signifikan dari pihak penyidik.
“Kami berharap polisi serius menangani kasus ini. Nelayan sekarang merasa resah untuk melaut karena takut kejadian serupa terulang. Orang-orang yang dicurigai seharusnya segera dipanggil dan diperiksa,” tegasnya.***
Penulis : Dismonrahman
Editor : Edy Manto

