Home / Nasional

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:44 WIB

Hadapi Tantangan AI, Direktur Eksekutif Baru LPDS Sebut Pers Sekarang Tidak Sedang Baik-Baik Saja

Anthonius Jimmy Silalahi dalam acara serah terima jabatan dari Direktur Eksekutif sebelumnya, Kristanto Hartadi.

Anthonius Jimmy Silalahi dalam acara serah terima jabatan dari Direktur Eksekutif sebelumnya, Kristanto Hartadi.

Jakarta – Di tengah disrupsi teknologi kecerdasan buatan, Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) menegaskan kembali peran strategisnya sebagai garda depan pendidikan pers di Indonesia. Penegasan itu disampaikan Direktur Eksekutif LPDS yang baru, Anthonius Jimmy Silalahi dalam acara serah terima jabatan dari Direktur Eksekutif sebelumnya, Kristanto Hartadi, di Jakarta, Rabu (21/10/26).

Prosesi serah terima tersebut menandai babak baru kepemimpinan di lembaga pendidikan jurnalistik tertua di Indonesia itu. Kristanto Hartadi, mengundurkan diri setelah menjabat selama tiga tahun sejak 2023.

Dalam pidato perdananya, Jimmy secara terbuka menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi pers nasional saat ini.

“Kita harus jujur mengakui, pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja. Di satu sisi kita
dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah total lanskap produksi dan distribusi berita,” ujar Jimmy.

Di sisi lain, lanjutnya, pers masih bergulat dengan persoalan fundamental soal kualitas, independensi, dan kepercayaan publik. Situasi bangsa yang dihadapkan pada beragam problematika sosial, politik, dan ekonomi
justru menuntut kehadiran pers yang semakin kuat dan berkualitas.

Ia menilai, publik membutuhkan berita-berita yang tidak hanya cepat, tetapi akurat, berimbang, dan mampu mengedukasi. Menjawab tantangan tersebut, Jimmy menegaskan komitmen LPDS untuk tetap berada di khittah-nya sebagai lembaga pendidikan pers.

“LPDS lahir dari amanat Dewan Pers pada 1987 untuk mendidik pers. Komitmen itu tidak berubah, melatih wartawan agar menghasilkan berita berkualitas yang mengedukasi publik. Tantangannya hari ini adalah beradaptasi, termasuk menghadapi kecerdasan buatan,” tegasnya.

Jajaran pengurus LPDS seusai acara serah terima jabatan dari Direktur Eksekutif LPDS

Jimmy menjelaskan, adaptasi yang dimaksud bukan sekadar mengajarkan wartawan cara menggunakan tools AI untuk menulis atau memverifikasi fakta, tetapi juga membangun kesadaran kritis agar jurnalis tidak digantikan oleh mesin..

“AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat. Itu yang harus terus kita tanamkan dalam setiap pelatihan di LPDS,” kata dia.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro (YPMA) selaku yayasan yang menaungi LPDS.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LPDS periode sebelumnya, Kristanto Hartadi, dalam sambutan perpisahannya menegaskan bahwa dirinya tidak akan meninggalkan LPDS.

“Saya tidak akan ke mana-mana. Saya akan terus berada di sini dan mendukung penuh keberadaan serta perjuangan LPDS ke depan. LPDS ini rumah kita bersama, dan saya akan terus mengabdi untuk memastikan lembaga ini tetap relevan dan maju,” ujar Kristanto.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran dan berharap kepemimpinan baru dapat membawa LPDS semakin adaptif terhadap zaman.

Prosesi serah terima ini turut dihadiri Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto. Ia sebutkan bahwa kondisi pers digital saat ini yang tumbuh sangat pesat namun dihadapkan pada tantangan serius.

“Sekarang ini pers digital tumbuh luar biasa, tetapi juga menghadapi tantangan berat. Banjir informasi, disrupsi algoritma, dan kehadiran AI membuat batas antara berita berkualitas dan sekadar konten menjadi kabur,” ujar Totok.

Menurutnya di sinilah peran LPDS menjadi sangat vital untuk menjaga marwah jurnalistik. Menegaskan Dewan Pers sebagai lembaga yang melahirkan LPDS akan terus mendukung program program pendidikan pers untuk memastikan wartawan Indonesia memiliki kompetensi dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik di era digital.

Sumber: LPDS

Editor: Redaksi

 

Share :

Baca Juga

Kota Tanjungpinang

Diduga Tiket Bodong, Tim PSW Tanjungpinang Terlantar di Bandara Soatta dan Gagal Ikut Pesparawi Nasional 

Nasional

Lantik 10 Pejabat, Menaker Tekankan Penguatan K3 dan Tata Kelola yang Akuntabel