Home / Kab. Anambas

Senin, 15 Juni 2026 - 20:58 WIB

Kepala SPPG MBG Siantan Klarifikasi Terkait Keluhan Limbah Dapur di Tarempa Barat

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siantan, sebagai wadah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Desa Tarempa Barat

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siantan, sebagai wadah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Desa Tarempa Barat

ANAMBAS – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siantan, Mesy Arsita, memberikan klarifikasi terkait keluhan warga mengenai dugaan bau tidak sedap dari limbah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas.

Mesy mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah menyampaikan keluhan terkait dampak limbah dapur SPPG. Selama ini pengelola tidak mengetahui masyarakat merasa terganggu, karena belum pernah menerima laporan secara langsung.

“Kami mengira aktivitas dapur berjalan dengan baik karena tidak ada informasi atau keluhan yang disampaikan kepada kami. Kami terbuka terhadap kritik, saran, maupun masukan apabila memang ditemukan kesalahan dalam pengelolaan dapur,” ujar Mesy, Senin (15/6/26) lalu.

Ia mengaku menyayangkan jika persoalan tersebut langsung diberitakan di media tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu dengan pihak pengelola. Baiknya, apabila warga merasa terganggu atau dirugikan, masyarakat dapat menyampaikan langsung kepada pihak dapur maupun mitra SPPG sehingga permasalahan dapat segera dicarikan solusi.

“Kalau memang ada masyarakat yang merasa terganggu, silakan langsung menyampaikan kepada kami. Misalnya jika lokasi pembuangan dianggap terlalu dekat dengan rumah warga, kami bisa mencari alternatif agar tidak menimbulkan gangguan,” katanya.

Limbah dari dapur SPPG, lanjut Mesy, berupa sisa pengolahan bahan makanan, seperti ayam dan bahan masakan lainnya. Namun sebelum dibuang, limbah tersebut terlebih dahulu masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilengkapi dengan penyaring atau perangkap lemak.

“Limbah tidak langsung dibuang, tapi ditampung terlebih dahulu untuk perangkap minyak atau lemak. Air yang keluar bukan berwarna hitam atau kuning, melainkan air biasa,” Mesy.

Namun Mesy mengakui bahwa air tersebut memang ada sedikit aroma. Tetapi mereka sudah memastikan telah melakukan pembersihan secara berkala.

“Kita melakukan kegiatan pembersihan dan pembuangan endapan limbah dilakukan setiap satu minggu sekali, yakni pada hari Jumat,” tambah Mesy.

Sementara itu, warga yang sebelumnya menyampaikan keluhan, Hen, mengatakan bahwa proses pembuangan limbah telah dilakukan dua kali.

Pembuangan pertama, aroma yang muncul dinilai tidak terlalu menyengat. Namun pada pembuangan kedua, bau yang ditimbulkan jauh lebih kuat hingga mengganggu aktivitas keluarganya.

“Bau yang muncul cukup menyengat. Bahkan anak saya sampai muntah karena mencium aroma dari pembuangan air limbah tersebut,” ungkap Hen.

Hen juga mengaku pernah menegur salah seorang pekerja saat kegiatan pembersihan berlangsung. Bertanya mengenai air yang dibuang karena menurutnya mengeluarkan bau menyengat.

Nnmun sayangnya, teguran itu tidak mendapat respons. Bahkan, Hen sempat menghubungi Ketua RT, tetapi tidak diangkat.

“Karena tidak ada respons, akhirnya saya meminta media untuk mengonfirmasi kepada pihak SPPG mengenai air yang dibuang tersebut,” katanya.

‎Menanggapi hal itu, pihak SPPG menanyakan identitas pekerja yang ditegur. Namun Hen mengaku tidak mengenali orang tersebut karena saat itu banyak pekerja yang sedang bergotong royong membersihkan area dapur.

Mesy membenarkan bahwa pada hari Jumat memang dilaksanakan kegiatan gotong royong di lingkungan dapur. Ia menduga kemungkinan penyampaian warga tidak terdengar oleh para pekerja atau tidak sampai kepada pihak pengelola sehingga tidak ada laporan yang diterima.

Selain itu, pihak SPPG menduga aroma yang lebih menyengat terjadi karena posisi pipa pembuangan yang masih cukup tinggi, ditambah kondisi air laut yang sedang surut serta cuaca panas sehingga bau terbawa hembusan angin menuju rumah warga.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak SPPG berencana memperpanjang pipa pembuangan hingga lebih dekat ke permukaan air laut agar aroma yang muncul saat proses pembuangan tidak lagi terbawa angin ke permukiman warga.

“Kami akan mencoba menyambungkan pipa pembuangan agar lebih panjang ke bawah sehingga saat dilakukan pembuangan, bau tidak lagi terbawa angin ke arah rumah warga. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi kami agar ke depan tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat,” tutup Mesy.

Penulis: Agus

Editor: Manto

Share :

Baca Juga

Kab. Anambas

Wisatawan Kapal Vega 1892 Berikan Bantuan Pendidikan dan Kesehatan Kepada Masyarakat Siantan Selatan

Kab. Anambas

Penanaman Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026, Manfaatkan Lahan Potensial Untuk Ketahanan Pangan 

Kab. Anambas

Dukung Anambas ASRI, Camat Siantan Luncurkan Program Jumat Siantan Berseri

Kab. Anambas

‎HNSI versi Bogor Anambas Pertemukan Nelayan Pancing dan Nelayan Tembak di Palmatak: Selesaikan Perselisihan

Kab. Anambas

Raja Bayu Apresiasi Jum’at Siantan Berseri: Langkah Positif Budaya Hidup Sehat 

Kab. Anambas

Kedatangan Ustaz Das’ad Latif di Anambas Disambut Hangat Pimpinan Daerah

Kab. Anambas

Pimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Raja Bayu Serukan Persatuan dan Semangat Kebangsaan

Kab. Anambas

Sambut Wisatawan Kapal Pesiar MV Odyssey, Bupati Aneng Minta Masyarakat Jaga Kelestarian Bahari Anambas